Kuliah Tamu S2 Pendidikan Geografi: Pengembangan Kapasisitas Geospasial untuk SDGs
Senin, 2 Desember 2025 – S2 Pendidikan Geografi
menyelenggarakan International Joint Lecture dengan tema Geografi untuk
Pembangunan Berkelanjutan bersama Prof. Mohammad Suhail. Beliau adalah Profesor
dan Direktur di Pusat Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis
di Samarkand State University, yang berlokasi di Samarkand, Uzbekistan. Secara
khusus beliau mengulas latar belakang Geografi dan SDGs, serta bagaimana
Pengembangan Kapasitas dapat diperkuat, khususnya melalui Tinjauan Aplikasi dan
Pendekatan Geospasial. Kuliah ini juga dihadiri oleh Kepala Sub Direktorat
Pemeringkatan Luar Negeri UNESA, Lisa Lisdiana, S.Si., M.Si., Ph.D. sebagai
fasilitator terselenggaranya joint lecture ini. Sebagai moderator adalah Dosen
Pendidikan Geografi, Dr. Lidya Lestari Sitohang, S.Si., M.Sc
Sebagaian besar tema SDGs memiliki keterkaitan dan
irisan dengan Geografi dan Lingkungan. Disaster Risk Reduction and Resiliensi
(Goal 2, 11, 13), Pembangunan Sosial (Goal 1, 3), Energi Goal 7), Konektivitas
(Goal 3,4,9,10,11) Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Perubahan Iklim Geografi
dan Environment (Goal 6,9,11,12,13,14,15) dan Perubahan Iklim (Goal 13). Dalam
konteks Geografi dan Lingkungan kita secara langsung terkait dengan Teknologi
Geospasial dalam pembangunan berkelanjutan.
Prof. Suhaili menggaris bawahi bahwa urgensi
penggunaan teknologi geospasial dalam mewujudkan SDGs adalah karena sekitar 70%
indikator SDGs merepresentasikan data geografis atau berbasbasis geospasial.
Karakteristik data geospasial yang muncul dari setiap indikator SDGs seperti
terdapat komponen keruangan (permukaan, perairan dan perubahan iklim). Setiap
tema berbasiskan lokasi untuk bisa memantau perubahan ataupun kemajuan dengan
citra satelit dan GIS melibatkan analisis time-series (seperti perubahan
penggunaan lahan), target-level, meningkatkan mekanisme akuntabilitas dan
transparansi dan memfasilitasi sistem peringatan dini tanggap untuk memitigasi
risiko dan menghadapi adaptasi iklim. Teknologi penginderaan jauh ini adalah
mata dan otak kita dalam upaya Pembangunan Berkelanjutan.
Terkait dengan pengembangan kapasitas untuk
Pembangunan Berkelanjutan, terdapat tiga unsur yang disampaikan sebagai hal
yang penting. Pertama, pengembangan sumber daya manusia, khususnya dalam
meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mengenai penggunaan teknologi
berbasis geospasial. Kedua, penguatan kelembagaan yang mendukung penerapan
teknologi tersebut. Ketiga, penguatan teknologi GIS (Sistem Informasi
Geografis) dan penginderaan jauh. Ia menekankan bahwa penggunaan teknologi GIS
dan penginderaan jauh dalam kerangka SDGs bertujuan untuk memonitor
perkembangan SDGs dengan fokus pada informasi spasial, terutama yang terkait
dengan permukaan tanah (land surface) yang dapat dilacak melalui
geodatabase. Di akhir sesi Prof. Suhaili kembali menekankan pengembangan
kapasitas manusia masih sangat diperlukan untuk mendukung upaya pengembangan
ini secara berkelanjutan.